Minggu, 13 April 2014

// // Leave a Comment

Dimanapun kita berada, Bertakwalah!

Tik.. Tik.. detik demi detik berlalu tanpa kita sadari, sadarkah kita jika bulan ini adalah bulan kesembilan kita “lepas” dari Insantama, lepas dari semua peraturan yang berada didalamnya, lepas dari pengawasan guru-guru, muaddib/muadibbah yang dulu selalu memperingatkan batas-batas yang tidak boleh kita lewati, bahkan lepas dari teman-teman “kepo” yang selalu merangkul kita menuju surga-Nya. Tapi sayangnya pengawas sesungguhnya bukanlah mereka, tapi Allah SWT.

Menginjak semester kedua disebuah lingkungan bernama kampus, saya mulai menyadari satu hal. Ada sesuatu yang perlahan mengikis dan melebur karena lingkungan, sesuatu yang membuat jiwa ini merindukan semua peraturan, pengawasan bahkan teman-teman kepo tersebut. Sesuatu bernama ketakwaan. Adakalanya ketika ketakwaan itu sedang mengikis, kita mulai melewati sedikit demi sedikit batasan aturan-Nya, entah itu karena alasan akademik, organisasi, bahkan pergerakan.


Lingkungan baru yang amat berbeda, serta “berkurangnya pengawas” yang dulu selalu mengawasi kita membuat kita lupa bahwa Allah tidak pernah tidur, Allah selalu mengawasi setiap perbuatan kita. Bukankah Rasulullah SAW sudah mengingatkan kita dengan sabdanya. “Bertakwalah kepada Allah dimana saja berada, apabila melakukan keburukan ikutilah segera dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapuskan keburukan dan bergaulah dengan manusia dengan pergaulan akhlak yang baik” (HR. Abu Dawud). Nah, poin penting yang harus digarisbawahi adalah “Ittaqillaaha haitsumaa kunta.. bertakwalah kepada Allah dimana saja berada…

Menurut para ulama, inti dari takwa itu ada tiga :

1. Al khouf minal Jalil (takut kepada Allah zat yang maha gagah perkasa)

2. Wal ‘amalu bi tandziil (mengamalkan wahyu yang diturunkan oleh Allah Swt, mengamalkan aturan Islam, mengamalkan Syariat Islam)

3. Wal ‘isti’daadubirrohiil (mempersiapkan diri untuk perjalanan menghadapi hisab dari Allah Swt)


“Bertakwalah kepada Allah” berarti kita harus takut kepada Allah, senantiasa taat kepada Syariat-Nya, dan juga seantiasa mempersiapkan diri mengahdapi hisab-Nya haitsumaa kunta (dimana saja kita berada). Entah itu di kelas, saat rapat organisasi, bahkan ketika kumpul bersama teman-teman kita yang lain. Maka dari itu, dalam setiap detik nafas kehidupan kita, kita wajib meyakini dan mendasari kehadiran dan pengawasan Allah SWT. Karena hanya dengan cara itulah, rasa takut yang menjadi penghalang atas setiap perbuatan maksiat yang berpotensi kita lakukan akan muncul. dan berharap dengan hal tersebut, Allah SWT mengangkat kita menjadi orang yang paling mulia di sisi-Nya. [HRS]



0 komentar:

Posting Komentar